I Am Not Using Path Anymore

Or at least for the moment…..

Ya, nampaknya saya sudah terjangkit dengan masalah yang ditimbulkan media social yang saya gunakan.

  1. Anxiety
  2. Jealousy

Kurang paham juga mengapa saya bisa berada di titik ini. Karena saya merasa bahwa selama ini saya “berteman” baik dengan media sosial. Jaringan ini yang memberi saya banyak informasi, berita (sebelum portal berita menyiarkan), teman-teman baru dan banyak hal seru lainnya. Tapi sekarang justru berbalik merusak saya.

Jadi apa masalahnya? Masalahnya adalah Path itu sendiri, karena…

P = Pamer

A = Adalah

T = Tuntutan

H = Hidup

Mungkin konsep awal jaringan ini memang untuk orang terdekat yang anda kenal ya, jadi anda bisa berbagi SEMUA kehidupan anda. Kenapa saya bilang semua? Ya karena tidur aja dishare bruh, siapa yang peduli lu tidur apa kaga? Dan ini DIBAGI JUGA, buat apa?

Semua itu malah jadi bumerang untuk saya. Karena hidup saya ini sejatinya emang nggak banyak yang seru dan bisa dibagi. Saya yakin nggak ada yang mau lihat saya mengurusi tagihan, dan laporan pajak perusahaan saya. Misal saya foto meja saya dengan laporan keuangan kemudian saya beri caption “OMG my fancy tax report. Kyaness!” saya yakin tetep nggak ada yang like sih.

Sudah merasa nggak asik dan nggak ada pengakuan pengakuan (berupa like dan komentar) dari teman-teman, saya masih harus melihat betapa bahagia teman-teman saya, betapa sempurna, dan pencapaian apa saja yang sudah mereka dapatkan. Hm… sebuah kombinasi yang sempurna untuk merusak mental saya dan membuat saya merasa kecil, lebih kecil dari upil tupai.

Oh Adit, stop complaining…. Lu cuma kurang bersyukur atas apa yang lu punya.

Believe me my friend, it is not that simple.

Lagipula membuang satu aplikasi dari ponsel saya ternyata cukup berpengaruh. Saya jadi lebih sadar apa yang saya miliki, yang bisa lakukan, dan tentunya membuat saya lebih produktif karena saya tidak sibuk mengecek ponsel saya setiap beberapa menit, membandingkan hidup saya dengan teman-teman saya, dan merasa betapa menyedihkan hidup saya ini.

Saya tahu ini adalah proses saya menjalani dunia orang dewasa. Saya yakin saya tidak sendiri, banyak di luar sana di usia awal 20 merasa tertekan dengan tuntutan dan melihat orang lain lebih sukses. Sedihnya keberadaan media sosial justru memperburuk situasi ini.

Saya pun memiliki banyak masalah yang harus saya bereskan. Hal ini pun bukanlah masalah yang paling pelik, tapi paling tidak saya bisa lebih fokus dengan masalah yang lebih besar dan menjadi lebih produktif. Oh… dan lebih penting lagi, saya telah belajar bahwa saya harus lebih mencintai diri saya sendiri.

1 Comment

  1. …And here goes my answer on why I never used Path….

Leave a Reply