Jangan Lupa Menjadi Kreatif

Tapi kak, saya sama sekali nggak kreatif

Sebenernya kalo kamu sudah pernah memecahkan masalah yang sederhana seperti gimana cara menuangkan saus tomat dari botol dengan cepat, secara teknis kamu sudah menggunakan bagian kreatif dari otakmu (maksud saya adalah dengan tidak menekan/menyodok bagian bawah dari botol kaca saus tomatnya).

Saya pun tahu kalo sebenernya semua umat manusia ini diberkahi kreativitas oleh Tuhan, cuma tinggal mau pake apa nggak. Biasanya sih jadi keluar pas udah kepepet. Ya gak? Ya dong.

Tapi kalo ada orang yang udah kreatif kok bisa lupa jadi kreatif? Bisa lah… sama mantan aja bisa lupa kok dulu mau jadian kenapa, masa cara jadi kreatif nggak bisa lupa?

Ehm…

Anyway… Sebenernya hal itu yang terjadi pada saya, dan juga bisa terjadi pada semua orang. Ada waktunya kita tenggelam pada tuntutan hidup (baca: kerja, cari duit, cari jodoh, dan segala upaya memenuhi standar hidup yang ada dalam masyarakat) sampai pada akhirnya kita lupa menjadi diri kita sendiri dan melakukan hal-hal yang menyenangkan kita.

Jadi bagaimana cara menjadi kreatif, atau mengembalikan kreativitas kita? Untuk itu kita perlu mengetahui proses kreatif. Namun seperti yang dibilang oleh Tanner Christensen (just a random internet person I found with amazing article),  langkah pertama kamu nggak ada hubungannya sama pengetahuan dan pengalaman. Sing penting ono niat (intend) sek, bar kuwi dilakoni. Selebihnya proses kreatif itu langkahnya seperti di bawah ini (kalo mumet juga nggak harus dilakoni semua sih, ini bukan ujian sekolah).

tahapan proses kreatif

Akhirnya saya pun memulai lagi sok ide dan sok kreatif baca: cobain apa saja yang menurut saya menarik. Kalo kalian pikir yang saya bilang ini sangat luas dan nggak tahu harus mulai dari mana, ya emang kenyataannya begitu.

Inget ya, yang penting itu ada niatnya, dan mau melakukan

Jadi sampai saat ini saya sudah mencoba:

  • Membuat animasi dengan format .gif
  • Belajar manipulasi foto lagi (yang simpel-simpel aja sih, dan memfasilitasi niatan narsis saya)
  • Belajar edit video
  • Menata feed instagram saya supaya a e s t h e t i c s
  • Belajar berkebun anggrek
  • Belajar bikin kemeja (yang ini diajarin mama hehehe)
  • Mulai rutin berolahraga

Dari semua yang sudah dicoba di atas, ada yang sukses ada yang engga. Seperti ketika belajar mengedit video itu harus berenti di tengah jalan karena komputer saya nggak kuat ya, daripada njeblug komputernya jadi mending ditunda dulu. Atau ketika belajar berkebun anggrek, nggak semua anggreknya tumbuh kembang tapi ada beberapa yang mati kepanasan atau kena hama.

Tapi sekali lagi yang penting di sini adalah menikmati prosesnya. Seperti yang saya ceritakan, saya pun sudah melakukan proses kreatif itu dari…

 

Intend: saya ingin mencoba hal baru yang menurut saya menarik

Explore/gather: saya memutuskan mana yang sepertinya bisa / cukup mudah dicoba

Connect/experiment: ya dicoba aja bro

Create: nah kan, hasil iseng ternyata juga menghasilkan karya

Evaluate: jadi gimana? Asik nggak? Hasilnya bagus nggak? Masih penasaran nggak? Kalo gagal kenapa?

 

Setelah melakukan proses kreatif itu, entah kenapa jadi ada perasaan “pingin lagi tapi apa ya?” Mungkin ini yang orang bilang sudah menjadi creative junkie? Nggak tahu deh, tapi yang jelas melakukan hal-hal itu membuat saya merasa lebih hidup dan memiliki motivasi untuk bangun pagi di keesokan harinya.

Oh iya, kalo kamu seperti saya yang suka membagi hasil karya kamu ke sosmed atau jejaring lainnya, saran saya kamu harus tebel muka. Di dunia online yang liar ini bakal ada manusia ngehe jelmaan comberan ciliwung yang menjatuhkan hasil karya kamu. Intinya kalo dia nggak punya karya yang lebih bagus, gak kasih kritik gimana buat mengembangkan lagi, atau nggak bantu dalam bentuk apapun yaudah biarin aja.

Mau foto makanan, dibilang makanannya nggak fancy. Mau ootd, dibilang gayanya alay. Mau bikin vlog, dibilang ikut-ikut anak gaul. Mau ngapain aja kek, menurutku….

Leave a Reply