I Am Not A Rainbow Unicorn

Mungkin banyak dari anda yang membaca blog ini adalah teman-teman dekat saya atau pembaca setia saya (kalo udah ada, huhu), yang sedikit banyak tau kisah saya selepas masa kuliah. Apakah ini post tentang curhat dan keluhan lagi? Hmm… mungkin iya… tapi dengan moral cerita, dan motivasi diri… *tsaaah

Untuk mendapatkan gambaran tentang yang akan saya ceritakan ini, bolehlah kita membaca sejenak dua buah bacaan dan satu buah video.

  1. Blog post dari Edward Suhadi, tentang atasan, pekerjaan, dan kerasnya menjadi pegawai (Walaupun Bos Kamu Brengsek dan Gaji Kamu Kecil)
  2. Artikel yang menjelaskan kenapa banyak dari generasi saya tidak bahagia dan mengalami depresi (Why Generation Y is Unhappy)
  3. Sebuah video dari Simon Sinek

Yap, saya mungkin bercerita tentang saya. Tapi kisah saya bisa jadi merepresntasikan banyak Gen Y/Millennial di Indonesia, atau bahkan di dunia. Yang jelas, itu di atas sampai ada 3 orang yang ngebahas bruh. Ini adalah masalah serius, dan masalahnya….

Saya pun depresi…

… dan inilah cerita saya.

Seperti bagaimana blog post dan artikel sebelumnya dimulai, saya adalah salah seorang generasi Y/millennials itu. Saya lahir di tahun 1993, dimana perang dunia telah berlalu, Indonesia sudah merdeka,depresi hebat di tahun 70an sudah lewat, orang tua saya adalah generasi yang merasakan pahitnya kehidupan ketika masa kecil mereka harus direbut dari kesusahan kakek nenek saya yang baru saja selesai berjuang untuk kemerdekaan. Sedangkan saya yang lahir di tahun 1993, mungkin baru mengerti konsep kehidupan dan perjuangan di awal tahun 2000.

Lahir dan memulai kehidupan di kondisi ekonomi, sosial yang cukup stabil adalah keuntungan generasi saya. Sesusah-susahnya orang tua saya, kami tidak perlu makan dengan krupuk yang dipecah jadi 4, atau sebutir telur rebus yang dipakai untuk 2x makan. Ketika tumbuh dewasa, orang tua saya pun selalu menekankan bahwa dunia ini banyak sekali kesempatan menunggu saya dan saya…. bisa….. menjadi…. apa saja.

As a naive boy, I took this pretty seriously.

Sebagai anak yang tidak rebel dan nurut-nurut aja sama orang tua, saya selalu patuh akan nasehat mereka. Terutama tentang pendidikan dan arah masa depan saya. Saya menjadi anak yang cenderung biasa-biasa aja, dalam hal pelajaran cukup (cukup aja buat naik kelas, masuk ranking 10 besar juga cukup 1x aja. lel), saya kemudian memilih untuk masuk perguruan tinggi yang memiliki jalur pendidikan double degree, saya aktif dalam organisasi,saya berhasil magang di 2 perusahaan besar sebelum saya lulus, dan saya lulus dengan predikat cumlaude.

Saya pun merasa telah melakukan semua yang saya bisa untuk menjamin masa depan saya. Bahwa saya siap menghadapi kehidupan setelah lulus sekolah & kuliah, bahwa… bisa jadi saya seperti Charlie yang telah memiliki golden ticketnya untuk memiliki semua akses ke pabrik Willy Wonka. Oh…

Tapi hidup gak gitu bro ~

Hidup ini nyatanya adalah preman yang nungguin kita di balik belokan, siap untuk gebukin dan rampok kita setelah kita membuat keputusan mau ambil arah/belokan kemana dalam hidup kita.

Setelah lulus, rencana awal saya… (dan ibu saya juga sih) adalah untuk mencari pekerjaan, settle selama 2-3 tahun, kemudian kembali ke perusahaan orang tua saya sendiri dan mengembangkannya lebih jauh. Well shit, not gonna happen. Di tahun terakhir saya kuliah… kondisi perusahaan kami memburuk, kesalahan manajemen oleh ayah saya, dan juga tertinggalnya teknologi yang kami implementasikan membuat kami kalah saing, kehilangan konsumen, dan tentunya merugi.

Mau tidak mau saya harus kembali, dan terjun langsung ke dalam perusahaan saya. Masalahnya… saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ya, faktanya pendidikan formal nampaknya mebuat kita lebih siap dengan menjadi pekerja, bukan pengusaha. Pendidikan formal itu seperti guide book yang memberi tahu kita apa yang akan kita hadapi, sedangkan menjadi pengusaha kita tidak akan menemukan hal semacam itu karena kita akan menuliskan aturan main kita sendiri.

phew… that’s  hard.

Belum selesai di situ, saya pun harus menghadapi konflik dengan ayah saya. Kalo boleh jahat… beliau ini yang mengacaukan perusahaan kami.

Thank’s dad, your son is on board in a crumbling ship. lel.

Saya yang awalnya berontak karena kecewa pada keadaan, akhirnya pun harus melek dan menerima keadaan bahwa perusahaan ini adalah penghidupan kami satu-satunya saat ini. Saya pun dengan tidak tau bagaimana memulainya, ya pokoknya mulai saja.. karena perusahaan ini harus diselamatkan, karena kalo bukan saya yang mulai lalu siapa lagi?

Satu hal yang saya ingat ketika curhat dengan teman saya, dia cuma bilang,

Ya mulai saja, when doing business once you’re in… you’re in!

Dikira itu saja kesusahan saya? Tidak! Setelah saya berada di dalam perusahaan, ayah saya tidak menyukainya. Mungkin beliau melihat saya ini sebagai matahari kembarannya, dimana saya mulai mengganggu otoritas beliau… yang berujung pada banyak pertengkaran dan pointless arguments.

Saya tidak menyukainya, karena selain mengganggu psikis saya, pekerjaan kami pun menjadi tidak efisien.

Atas saran ibu saya, saya pun mengalah dan iseng-iseng mencari pekerjaan. Tidak puas di suatu pekerjaan yang saya dapatkan, saya pun resign dan mendaftar di perusahaan lain.

Dan interview kerja saya menjadi titik balik saya….

Saya diwawancara oleh seorang HR manager yang sebelumnya saya kenal dari sebuah acara kampus. Seperti banyaknya HR manager, beliau adalah orang yang sangat terbuka, tapi juga pintar membaca orang. Mengobrol dengan beliau selama 30 menit, saya merasa seperti sudah ditelanjangi luar dalam.

Pada saat interview, ada 1 percakapan kecil yang menampar saya dengan keras. Saat itu situasinya adalah, nampaknya atasan beliau dan divisi yang cocok dengan saya tidak bisa memperkerjakan saya karena tidak ada lowongan yg terbuka. Namun sang HR manager ini masih sangat tertarik kepada saya, dan berniat memperkerjakan saya untuk HR project beliau, kemudian saya ditanyai.

T: Apa adit mengerti tentang HR? | J: ya, tapi tidak mendalam… hanya sebagai mata kuliah yg pernah saya pelajari.

T: Adit bisa design grafis? kira-kira bisa bantu saya buat booklet & materi untuk training? | J: wah… saya sih belum tahu banyak tentang design grafis, selama ini hanya sebagai illustrator.

T: Kalo saya mau bikin materi training, adit bisa bantu apa? | J: saya bisa bantu resarch dan copywritingnya (?)

Dang! Jelas research dan nulis itu pekerjaan yang “gitu doang”, dan orang sekaliber beliau gak perlu bantuan tangan. Air wajah beliau langsung berubah… dan di situ lah saya sadar bahwa.

SAYA. TIDAK.  SPESIAL.

bahkan cenderung kurang. All my life is a lie bruh! Jelas saya tidak mendapatkan pekerjaan itu. Bahkan mungkin itu adalah titik terendah saya. Life didn’t hit me like a truck, it hit me like a shinkanzen train.

Yang saya percayai bahwa saya adalah seorang yang spesial, bahwa saya bisa menjadi apapun tidak terwujud dalam babak baru kehidupan saya. Bahwa saya terjebak dalam kekurangan saya, bahwa mungkin jutaan orang di luar sana jauh lebih baik dari saya, dan saya hanya debu kecil di galaksi yang luas ini.

That time I realized I was not a unicorn, not even a nyan cat that runs with rainbow behind.

Kesulitan saya pun tidak didukung dengan situasi di sekitar saya. Sebagai generasi yang sangat terkoneksi dengan internet dan media sosial, saya melihat banyak teman saya yang telah membuat perkembangan sangat pesat. Bekerja di perusahaan multinasional, memiliki usaha yang sukses, atau sekedar punya banyak waktu untuk bersama teman-teman.

hmmmm… jadi ini hanyalah post curhatan, keluh kesah, abege yang gak tahan dengan hidupnya? Engga juga… karena seperti kata Buster Moon (Matthew McConaughey) di film Sing.

You know what’s great when hitting rock bottom? There’s only one way left to go, and that’s UP!

Semua akan terserah saya, apakah saya mau kendor aja mempertanyakan kenapa hidup saya seperti ini, bersedih setiap hari, melanjutkan depresi saya? Tidak, karena saya memilih untuk berkembang lagi. Karena galau itu harusnya cukup 1-2 lagu Adele, habis itu life must go on.

Tidak lama setelah interview + tamparan hebat itu, saya langsung mengikuti kursus yang saya perlukan. Dari akuntansi, perpajakan, sampai desain grafis juga. Capek? iya. Tapi saya menikmati setiap proses belajar yang saya lalui. Saya pun menemui banyak teman-teman saya yang memiliki usaha sendiri, dan saling berbagi tentang keberhasilan dan kesusahan kami. Well… kalo punya usaha itu susah, at least dengan mengobrol bersama mereka saya sadar kalo saya gak susah sendirian, dan… tentunya saya mendapat koneksi untuk mencari potensi bisnis baru yang bisa digali.

Saya membuat strategi baru di perusahaan saya. Saya sadar bahwa untuk maju, saya harus mundur. Hah gimana? Saya akhirnya mundur dari kantor saya di Jakarta, dan memilih bekerja di Solo bersama ibu saya. Walau saya meninggalkan banyak teman dan potensi bisnis di kota besar, di sini saya bisa fokus dengan pekerjaan saya karena tidak ada ayah saya + pointless argument beliau, saya menjadi lebih produktif, dan sulit dipercaya saya pun akhirnya merasakan hasil dari usaha saya.

Perlahan tapi tapi pasti saya telah memperbarui sistem operasional perusahaan saya, saya mendapatkan customer baru, dan orang-orang pun mulai bertanya dan mengetahui perusahaan saya. Dari proses ini saya belajar bahwa membangun usaha dan bisnis tidak instan, perlu proses, tidak semudah mengusapkan jari anda untuk memilih pasangan kencan di Tindr. Because forward is forward, regardless your speed.

Sounds good, am I still depressed?

Yes… and No.

Apakah setelah semua pengalaman ini hidup saya menjadi lebih mudah? engga juga.

Apakah saya mendapatkan hal yang sebelumnya tidak saya miliki? iya, tapi saya juga melepaskan banyak hal lain.

Saya saat ini berpegang bahwa saya harus hidup di masa kini. BE PRESENT. Tidak perlu menyesali yang sudah lalu, atau terlalu banyak spekulasi dan khawatir mengenai yang akan datang. Mungkin satu-satunya ketakutan saya saat ini adalah jika ada potensi diri saya yang tidak terpenuhi, dan apakah yang saya lakukan ini adalah sebuah pekerjaan yang memuaskan secara materi maupun mental. Tapi mungkin pertanyaan itu sudah sedikit terjawab oleh blog post lain milik Edward Suhadi.

3 Comment

  1. Sungguh bacaan yang menarik. Tapi mengenai generasi Y banyak yang depresi, I would say yes. Karena teman-teman di sekitar saya tanpa saya sadari banyak yang mengalami hal tersebut (dan tampaknya saya pun pernah dalam fase ini). Beberapa di antaranya harus ke psikologi untuk meringankan beban dan rasa depresi mereka.

    Kadang jadi mikir, apa sih yang membuat anak-anak jaman sekarang jadi mudah depresi? Tampaknya beberapa artikel di atas menjelaskan hal tersebut.

    1. Saya jg baru mengerti dengan jelas situasi saya setelah baca artikel dan menonton video itu.
      Dan soal pergi ke psikolog, saya pun menyempatkan dan mendapatkan dukungan yg luar biasa. Untung sj kalo saya bisa diatasi dengan “terapi curhat” belom sampe depresi yg harus diatasi dengan obat 😐

      1. Curhat memang selalu bikin lebih lega sih.

Leave a Reply