Movie Review: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children

Akhirnya salah satu film yang saya nantikan di tahun 2016 ini rilis juga, Miss Peregrine’s Home for Peculiar children, sebuah film yang disutradarai oleh Tim Burton. Buat saya sendiri, film Tim Burton selalu menarik karena dia selalu menampilkan imajinasi dia yang aneh, quirky, dan cenderung gila. Saya juga selalu menyukai bahwa Tim Burton selalu menampilkan dunia fantasi yang tak lepas dari hal-hal magis dan monster. Tentu film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama (ditulis oleh Ransom Riggs) ini sangatlah cocok diangkat menjadi film garapan Tim Burton.

The Peculiars
The Peculiars

Cerita ini menceritakan tentang pemuda bernama Jake (Asa Butterfield) yang sedang ditengah masa remajanya. Ya, seperti kebanyakan cerita menggambarkan kehidupan remaja yang sulit, Jake pun Nampak menjalani  hidup yang sulit. Mulai dari orang tua yang Nampak tidak peduli dan tidak mendengar pendapatnya, teman-teman yang tidak mempedulikan dia, dan juga dia mengalami kekecewaan yang mendalam kepada Kakeknya yang…. Kita akan bahas lebih lanjut nanti ya.

Konflik dari film ini dimulai ketika Jake diminta oleh orang tuanya pergi ke Rumah Kakeknya, Abe (Terrence Stamp), yang sakit. Abe dianggap mengalami dimensia, dimana dia sering melihat hal yang tidak ada, membicarakan makhluk atau hal yang tidak nyata. Sayangnya ketika tiba di Rumah Abe, Jake menemukannya sudah tidak bernyawa. Namun di saat terakhir hidupnya, Abe meminta Jake untuk pergi ke sebuah rumah di sebuah pulau, mencari seorang bernama Ms. Perigrine dan memintanya menjelaskan semuanya.

Logic Troll:

Wow fantastic grandpa Abe, a monster just took his eyes off and he’s suddenly awake, tell Jake to go to an island, and then back to death.

Jake pun akhirnya pergi ke sebuah pulau di Wales, Inggris ditemani oleh ayahnya (yang menurut saya dia malah bikin ribet Jake aja sih) untuk mencari Rumah tersebut dan mencari kebenaran kisah Abe yang diceritakan sejak Jake kecil. Lah? Kisah apa? Jadi ceritanya semenjak kecil, Jake selalu mendengar dongeng sebelum tidur dari kakeknya Abe, dimana dikisahkan bahwa Abe telah berkeliling dunia menemui anak-anak dengan kemampuan khusus, atau dalam hal ini disebut special (perculiar).

Di Rumah milik Ms. Peregrine ini jake menemui banyak anak dengan kemampuan unik. Lauren seorang pyrokinesis (mengendalikan api), Milliard anak yang tembus pandang, Bronwyn gadis yang sangat kuat ( memiliki 10x kekuatan manusia dewasa), Fiona gadis yang bisa mengontrol tanaman, Enoch yang dapat menghidupkan benda mati, Hugh yang memiliki badan sebagai sarang lebah, Claire yang memiliki mulut monster di Belakang kepalanya, Horace yang memiliki mimpi yang dapat meramal masa depan, si Kembar, dan terakhir dan paling cantik, Emma seorang gadis yang sangat ringan & dapat mengendalikan angina.

Mengetahui semua kemampuan anak-anak ini tentu Jake sangatlah terkejut. Namun ternyata Jake pun memiliki kemampuan khusus, yaitu dapat melihat Hollow. Hollow adalah monster yang mengincar para Perculiar untuk memakan bola mata mereka. Mereka ini adalah Monster yang tercipta karena eksperimen Mr Barron (Samuel L. Jackson) yang ingin menggunakan kekuatan Ymbryne untuk mengendalikan waktu dan menjadi abadi.

The Hollow
The Hollow

Ms. Peregrine dan juga para ymbryne telah berperan untuk membuat sebuah loop. Dengan sebuah loop mereka dapat terus menjalani hidup dalam kurun waktu 24 jam yang selalu diulang, aman dari jangkauan Hollows.

Setelah jake mengenal para perculiars, memahami kekuatannya, kemudian dia pun sadar peran pentingnya untuk melindungi para Peculiars dari bahaya para Hollows. Dan ketika Ms. Peregrine diculik oleh Mr. Barron, Jake memimpin para Peculiars untuk menyelamatkan Mr. Perigrine dan para ymbryne yang telah diculik sebelumnya, juga untuk menghentikan rencana Mr. Barron dan para Hollows.

Cerita sepanjang film ini boleh dibilang cukup datar. Saya tidak merasakan suatu story building yang gereget banget. Ceritanya bisa saya bilang ringan, dan sangat memenuhi imajinasi anak (atau saya) yang sarat dengan fantasi, magis, dan monster. Tim Burton sendiri tidak pernah mengecewakan dengan idenya untuk menciptakan fantasinya itu. Mulai dari desain rumah yang klasik, kostum yang dikerjakan oleh Coleen Atwood (yang juga telah bekerja di film Tim Burton sebelumnya, dan banyak film ternama), last but not least tentunya dandanan pucat para pemain yang sering ditampilkan di film Tim Burton.

Sepatu timah milik Emma. Look at those details
Sepatu timah milik Emma. Look at those details

Walau ceritanya saya bilang cukup standard dan cenderung klise, fokus film ini pada karakter Jake telah tercakup dengan baik

Jake, sebagai remaja yang tidak puas dengan hidupnya, harus menyaksikan kematian kakeknya yang misterius, kemudian menemukan jawaban dari cerita kakeknya yang telah dia anggap bohong semasa kecil. Tentu sebuah petualangan yang tidak diharapkan karakter utama adalah sebuah twist yang wajib dalam cerita semacam ini.

Ya kalo ga ada petualangannya, masa dapet penjelasan terus pulang?

Sweet moment of Jake & Emma
Sweet moment of Jake & Emma

Saya menyayangkan kurangnya pembangunan romansa antara Jake dan Emma. Ketika di awal film diceritakan bahwa Horace melihat Jake dan Emma hampir berciuman. Emma pun berkata bahwa Jake mirip dengan Abe, dimana kakek Jake nampaknya adalah cinta masa lalu Emma ketika Abe masih tinggal di rumah itu bersama Perculiars. Tapi ya udah gitu doang. Maksudnya apa yang bikin mereka suka satu sama lain tidak dijelaskan. Sure Jake look alike Abe when he was young, Emma seems welcoming and even take Jake to her secret “hide out”, but I cannot find what makes Jake like Emma at the first place. Kalo cuma karena Emma cantik sih agak dangkal ya.

Somebody who read the novel, please explain me about this.

Film ini memiliki pesan moral yang dapat disalurkan kepada anak

Tim Burton & boneka hidup milik Enoch di set Miss Perigrine.
Tim Burton & boneka hidup milik Enoch di set Miss Peregrine.

Walau film garapan tim burton kental dengan karakter yang dark, penuh dengan monster dan hal-hal magis, film ini memiliki pesan moral yang dapat disalurkan kepada anak, terutama mereka yang merasa sulit di tengah usia remaja mereka. Walau saya baru sadar juga setelah tiba dirumah selepas menonton film ini di bioskop, film ini mengajarkan kita bahwa tidak apa bagi kita untuk menjadi aneh atau spesial. Anak yang spesial cenderung memiliki kesulitan bergaul dengan anak seumurnya. Mungkin saja mereka berpenampilan berbeda, berpikir berbeda, dan melakukan hal dengan cara yang berbeda.

Di film ini kita melihat karakter Jake yang sulit bergaul dengan temannya, namun dia dapat menerima semua keunikan yang dimiliki para Perculiars. Kita juga dapat melihat bahwa sebagai anak yang berbeda atau spesial sebaiknya tidak mengurung diri dari dunia luar tapi harus berani menghadapi dunia luar yang tidak sering menindas kita. And I Think I just indirectly encouraged people to create their nerd/geek community. LOL.

Pada akhirnya, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah film yang menarik. Selain menawarkan cerita fantasi yang dikemas khas oleh Tim Burton, cerita ini juga sarat nilai moral yang dapat diberikan kepada penonton yang menikmatinya.

Funfact:

Ransom Riggs adalah  penulis yang terkenal karena novel dan cerita buatannya terinspirasi dari foto dan potret kuno yang dia temukan. Walau foto-fotonya banyak yag creepy tapi siapa sangka bisa jadi cerita yang menarik gini ya.

4 Replies to “Movie Review: Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children”

  1. Tim Burton aku seringnya ga paham jalan ceritanya dia sih..tapi aku suka kostumnya. Kemaren sih masih mikir2 mau nonton apa nggak…jadi penasaran..

    1. harus nonton sih kalo demen sama hasil karyanya om Burton ~

  2. Waa!
    Iya ini film keren bet, meski agak merasa gimana di ending sih idk why.
    Tim Burtonnya berasa banget pas si Enoch (cmiiw) nunjukin boneka buatannya ke si Jake.
    Yang seru, banyak monster yang “mirip” sama monster yang lagi happening jaman sekarang. Macem Hollow (2nd appearance, si Victor) itu ngingetin banget sama Slender-man, dan yang kocak yang bagian boneka pertama. Itu ngingetin sama “monster toy” di Toy Story 1.

    wkwk, btw nice review!!

    1. Endingnya agak kecepetan ya… kaya habis klimaks banget terus ngebut ke penyelesaian cerita. wkwk I actually recall to monster toy on toystory too!

Leave a Reply