Movie Review: Suicide Squad

suicide squad1

Jujur saya belum pernah menulis ulasan film… tapi kenapa tidak dicoba karena Suicide Squad ini cukup menarik untuk dibahas.

Suka atau tidak, kita tidak bisa memungkiri bahwa bioskop dan televisi kita telah dikuasai oleh para superhero. Saya rasa sejak Marvel Studio yang berkolaborasi dengan Disney sukses dengan seri Avengers mereka, film superhero kemudian bagai jamur di musim hujan. Kita bisa menemui mereka di bioskop, di TV kita, internet, dimanapun akan dihiasi wajah-wajah superhero ini.

Berbeda dengan Marvel, film dari DC memiliki pendekatan yang berbeda baik secara visual maupun cerita. Pada film Marvel, anda akan menemukan cerita yang cukup ringan, to the point, didukung dengan visual yang cerah. Sedangkan DC memilih untuk berada di sisi yang cenderung “dark”, story building yang lebih kompleks, dan karakter yang sangat badass (ingat kalo trilogi The Dark Knight dari C. Nolan itu keren banget).

Lalu bagaimana dengan Suicide Squad?

DC masih berpegang pada ciri khas yang saya sebutkan tadi, namun yang menarik dari Suicide Squad adalah, mereka yang tergabung dalam pasukan ini bukanlah super hero melainkan adalah penjahat-penjahat super yang disatukan dalam sebuah tim.

suicide squad2

Adalah ide dari Amanda Waller (Viola Davis) untuk membentuk Task Force – X dimana adalah tim yang terdiri penjahat super yang menurutnya bisa dikendalikan & masih bisa berbuat baik. Underline kata menurutnya. Ide dari Amanda Waller ini masih seputar kekhawatiran yang kita temui di film Batman v Superman. “Bagaimana kalau meta human / superman berikutnya adalah penjahat super?” pertanyaan inilah yang membuat Amanda membentuk Task Force – X.

Tim bentukan Amanda Waller ini terdiri dari pembunuh bayaran Deadshot (Will Smith), psikopat sekaligus kekasih Joker, Harley Quinn (Margot Robbie), pengendali api (?) Diablo (Jay Hernandez), seorang mutant bernama Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), dan perampok dari Australia Captain Boomerang (Jai Courtne). Pasukan ini dikomandoi oleh Rick Flag (Joel Kinnaman) yang setuju bekerja untuk Amanda karena dia jatuh cinta kepada June Moone (Cara Delevingne) a.k.a Enchantress. Sejatinya Enchantress sendiri adalah bagian terkuat dari tim ini, namun diluar perkiraan Amanda bahwa Enchantress dapat melarikan diri dan menciptakan kekacauan di kota Midway City.

Namun sisi menarik film ini bukanlah seperti film super hero pada umumnya. Saya merasa bahwa film ini lebih menampilkan masing-masing karakter yang tergabung dalam Suicide Squad. Hampir sebagian dari jalannya film ini adalah untuk pengenalan karakter, bagaimana kisah & kehidupan mereka, yang justru membuat konflik utama dari film ini (mengalahkan karakter antagonis tentunya) di tempatkan di hampir akhir film ini sendiri.

suicide squad3

Namun saya tidak keberatan. Mengenali karakter-karakter dalam film ini pun menyenangkan. Hubungan asmara antara Harley Quinn & Joker memberikan efek emosional yang cukup mendalam dalam film ini. Bahwa penjahat super juga bisa jatuh cinta, tergila-gila bahkan. Harley Quinn, yang seorang penjahat super / psikopat pun dapat menangis ketika dia mengira kekasihnya, Joker, telah tiada. Deadshot yang dianggap tidak punya perasaan dengan banyaknya orang yang dia bunuh demi uang, ternyata adalah sosok ayah yang sangat menyayangi anaknya dan menginginkan semua yang terbaik untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Diablo yang sedang mencari kedamaian dari rasa bersalah karena telah membunuh istri & anaknya. Justru menurut saya karakter yaang terlihat jahat, kejam, & tidak berperasaan di sini bukanlah mereka yang tergabung dalam Task Force – X, melainkan adalah Amanda Waller yang menggunakan kekuasaannya dan mengecam para penjahat super ini untuk mengikuti perintahnya, atau mereka akan mati. Sayang saya kurang memahami “manfaat” Captain Boomerang di sini… ngapain ya? Tidak ada latar belakang, atau cerita dari Captain Boomerang yang ditampilkan dan membuatnya benar-benar menjadi penjahat yang terpaksa untuk bergabunng dengan tim ini.

Banyak yang bisa dinikmati dari Suicide Squad. Humor yang menarik untuk kalanngan dewasa, walau tidak cenderung slapstick seperti pada film Marvel, visual yang menarik (tertutama desain kostum dari DC yang selalu awesome), dan juga permainan emosi di dalam film ini, yah… walau itu tadi… esensi konflik & baku hantam dalam film super hero yang jadi dikesampingkan.

film ini mengajak kita untuk sekali saja mencintai karakter penjahat

Dengan pembangunan karakter yang mantap, film ini mengajak kita untuk sekali saja mencintai karakter penjahat, dan bahkan dapat merasa iba untuk mereka. Terlebih lagi justru penjahat yang tidak berperasaan bisa jadi bukan dari mereka yang berada di sisi gelap, penjahat, sampah masyarakat, melainkan mereka yang yang bekerja dalam organisasi pemerintah/harusnya mengabdi pada masyarakat seperti Amanda Waller.

Tak lupa film ini pun memiliki soundtrack yang keren. Kita akan mendapati pilihan musik yang klasik seperti “Bohemian Rhapsody” dari Queen hingga yang Skrillex, yang ternyata jadinya juga sangat keren untuk dipakai dalam Trailer.

Leave a Reply