17 | 71 : Datang ke Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan Indonesia

IMG_2306

Selama lima hari saya menyempatkan untuk singgah di Jakarta, mendatangi pameran ini adalah salah satu alasan saya datang ke ibukota. Pameran bertajuk “17 | 71 : Goresan Juang Kemerdekaan” menampilkan koleksi lukisan dari istana kepresidenan Indonesia.

Lukisan yang ditampilkan pada pameran ini memiliki 3 tema utama, yaitu: potret tokoh perjuangan kemerdekaan indonesia, kondisi sosial masyaralat masa revolusi, dan jejak perjuangan pada masa penjajahan hingga tahun 1950an. Pun demikan ada beberapa  karya yang menampilkan kekayaan alam Indonesia.

Penyelenggaraan pameran lukisan ini, juga kita harapkan dapat menjadi bukti atas kesanggupan bangsa kita, dalam merawat dan memelihara maha karya para maestro dunia itu sebagai bagian dari manuskrip peradaban. Sebuah bukti, yang semoga dapat makin memperkokoh postur negeri kita sebagai bangsa yang maju. – satu kutipan yang saya ambil dari sambutan Menteri  Sekretaris Negara, Pratikno.

IMG_2305

Lukisan yang dipamerkan di sini bukan hanya dari Istana Jakarta (Istana Merdeka) namun dari semua istana kepresidenan yang ada di Indonesia, termasuk diantaranya adalah Istana Bogor, Cipanas, Pelabuhan Ratu, Yogyakarta, dan Tampak Siring. Menurut pustaka yang juga ditampilkan pada pameran ini, jumlah karya seni berupa lukisan, patung, pahatan dan banyak lagi karya maestro Indonesia yang disimpan pada istana kepresidenan berjumlah sekitar 16.000 karya seni. Tentu yang ditampilkan pada pameran ini adalah sebagian kecil, sangat sedikit malah.

Inisiatif untuk memamerkan karya ini kepada publik sudah ada pada masa pemerintahan Presiden Megawati. Namun karena terkendala masalah inventarisasi karya seni, pendanaan, pengurus, dll maka belum bisa terealisasi pada masa pemerintahan beliau. Pada tahun 2015 lalu, Presiden Jokowi memutuskan bahwa untuk terlaksananya program ini pihak istana harus menjadi inisiatornya. Maka dibuatlah program kerja dibawah kementrian sekretaris negara untuk memamerkan karya-karya ini pada publik. Dengan waktu yang singkat (1 tahun itu cepet sih), pihak istana bersama pengurus & kurator berhasil mempersiapkan hanya kurang dari 10% dari total koleksi istana. Namun demikian pameran ini rencananya akan diadakan tahunan dengan menampilkan koleksi yang berbeda setiap tahunnya.

Nah, apa yang menarik pada pameran ini?  Tentunya pameran ini memajang karya seni maestro indonesia seperti Raden Saleh, Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandi, Basoeki Abdullah, Dullah, dan banyak lagi. Namun ini adalah beberapa favorit saya.

“Penangkapan Pangeran Diponegoro” – Raden Saleh

Lukisan ini jelas favorit saya.  Raden saleh selalu memiliki warna yang menarik dalam lukisannya. Beliau yang sempat menimba ilmu di Eropa sempat mendalami banyak lukisan khas eropa seperti misalnya hasil karya Rembrandt, dan pengaruh tersebut dapat kita lihat pada banyak lukisannya.

IMG_2310

Masih belum paham indahnya lukisan ini? lihat detailnya, dari jari-jari tangan, kain yang menjuntai, batu pada tanah, retakan pada lantai, pengaturan fokus dan cahaya, semuanya sangat luar biasa pada lukisan ini.

penangkapan-diponegoro

“Memanah” –  Henk Ngatung

IMG_2325

Lukisan ini bisa dibilang sangat spesial pada pameran ini karena lukisan inilah yang menjadi saksi bisu proklamasi kemerdekaan indonesia. Dijelaskan bahwa lukisan ini adalah lukisan yang dipajang pada teras rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, lukisan ini menghadap ke punggung Bung Karno ketika beliau membacakan proklamasi. Duh, membicarakannya saja saya merinding…. sungguh lukisan yang punya nilai sejarah tinggi.

proklamasi-edited

Beginilah posisi lukisan “Memanah” ketika proklamasi dibacakan oleh Bung Karno

Sayang sekali lukisa ini dibuat diatas triplek (plywood), dan penempatannya pada teras rumah  tentu sangat rentan terhadap cuaca dan menyebabkan lukisan ini rusak. Foto yang anda lihat pertama tadi merupakan hasil repro atau duplikat, sedangkan lukisan asli oleh Henk Ngatung yang dipamerkan telah dalam kondisi rusak seperti yang kita lihat di bawah ini.

IMG_2326

“Tara” – Srihadi Soedarsono

IMG_2318

Sebagai cucunya Eyang Di (begitu saya memanggil beliau) rasanya ingin spazzing ASDFGHJKL ini keren banget! Sedikit cerita ketika masa penjajahan, beliau pun membantu melawan penjajah dengan melukis. Loh, gimana bisa? Tentu bisa, beliau membantu dengan melukis wajah-wajah perwira belanda yang menjadi target operasi tentara Indonesia. Karena beliau lahir pada tahun 1931, ketika tahun 40-50an tentu uisa beliau masih belasan dan…… siapa sih yang curiga digambar sama anak kecil, kan lucu aja gitu ya. Padahal yang melukis mereka ini adalah intel. hahaha

Lukisan ini pun sebenernya memiliki relasi ganda dengan saya. Maksudnya apa? Nama Tara pada lukisan ini adalah anak pertama Eyang Di, yang berati juga tante saya…. dan lucunya lagi beliau juga adalah salah satu dosen di universitas saya mengenyam pendidikan. Figur Tara yang dilukis di sini adalah ketika beliau belajar menari. Tara belajar menari sejak tahun 1975-an pada Anak Agung Gde Mandera di Puri Kaleran, Peliatan, Bali. Pada 1977, Tara diwisuda dan pentas tari memerankan tokoh laki-laki, Jayaprana.

Selain lukisan banyak pula pustaka dan foto-foto pendukung pameran ini. Dari buku-buku yang menjelaskan istana presiden dan koleksi karya seninya, hingga foto-foto Bung Karno dalam pergerakannya melawan penjajah, membangun ibukota Jakarta & Indonesia, serta bagaimana beliau memamerkan karya seni koleksinya di istana pada tamu dan negarawan yang berkunjung ke Indonesia pada masa itu.


Jika anda ingin mengunjungi pameran ini, pameran dibuka hingga 31 Agustus 2016 di Galeri Nasional Indonesia. Letaknya tepat di seberang stasiun Gambir. Galeri ini dubuka pada pukul 10 pagi hingga 4 sore. Saran saya jangan datang ketika weekend karena animo masyarakat begitu besar dan bisa jadi anda sudah capek kepanasan mengantri di luar. Untuk informasi mengenai pameran tersebut anda bisa mendapatkannya di sini.

Bonus: my mom enjoying the paintings of S. Sudjojono. :p

IMG_2327

Leave a Reply