Saya, Media Sosial, dan Teman Saya. Masalahnya…

Saya sangat aktif dan mengikuti perkembangan sosial media. Baik platformnya maupun isu-isu menarik yang berkembang diantara netizen. Saya sudah menjelaskan di blog post lain bahwa saya menyukai sosial media karena saya bisa berkenalan dengan orang asing, dan bahkan kami masih berteman hingga sekarang. Yah walau ada juga masalah yang saya ceritakan mengenai perkembangan media sosial sekarang.

Namun, tentu saya mempunyai teman-teman di kehidupan nyata. Alhamdulillah saya belum halu di rumah dan berbicara dengan waifu hologram di laptop saya (kalo kalian ga tau, di jepang udah ada yang kaya gitu). Teman-teman saya inilah yang selalu ada di saat senang dan (kadang-kadang) di saat sedih. Banyak dari mereka adalah teman sekolah, kuliah, dan beberapa yang saya kenal dari pekerjaan saya. Yang jelas saya tidak bisa hidup tanpa mereka karena mereka yang menjaga saya tetap waras dan on track di kehidupan nggak rata jalannya kaya muka Andhika kangen band ini.

huhuhu luv u guiz

Tapi kadang-kadang juga saya harus merelakan ada jarak di antara kami. Mungkin jarak itu karena kesibukan masing-masing dan sulit mencari waktu yang pas, atau juga karena kami berada di tempat yang berbeda. Seperti saat ini, saya banyak memusatkan kesibukan saya di kota Solo. Setelah 5 tahun hidup di Jakarta dan mengenal banyak teman, berat juga ya buat balik ke kota asal dan move on dengan hidup.

Pada awalnya saya mengira, “ah okelah… saya bisa mengecek update terbaru mereka dari media sosial atau pesan singkat”

Wrong

Ternyata di dunia nyata, saya berteman dengan orang-orang yang tidak suka, atau tidak aktif di media sosial. Hal ini jelas…. menutup pintu akses saya… pada…. perkembangan mereka. Kenapa sih gais kalian gitu? kan aku kangen….

Yah saya paham, kesenangan orang pasti beda-beda. Apalagi tidak semua orang suka mengekspos kehidupannya di dunia maya karena ada aturan “once you put it online, it’s served to the whole internet”. Jelas aturan tadi bikin orang males update atau…. ya mungkin mereka gak punya waktu aja.

Sementara itu walaupun saya juga bekerja, tapi saya selalu mengecek apa yang terjadi di linimasa. Terutama dari Twitter sebagai tempat paling cepat update dan paling troll di ranah internet. Saya pun menemukan salah satu cara terkoneksi dengan teman saya adalah dengan…. mengirimkan “benda” random kepada mereka….

Jika kalian salah satu yang mendapat link random/troll itu, ketahuilah kalian spesial di hati saya (spesial mbahmu)

Ya habisnya pada aneh sih, kalo ditanyain apa kabarnya malah langsung jawab, “basi amat lu, kaya baru kenal” malah alamat macet ya nggak jadi ngobrol gitu. Atau di lain kesempatan akhirnya teman saya mau cerita atau ada curhatan dan berujung, “duh capek ya chatting… lu aja kapan ke Jakarta?”. Yap, karena hal-hal seperti itulah saya sering berbagi hal random. Karena hal-hal seperti anjing corgi yang pantatnya kaya bapao kembar, sampe lawakan politik yang beredar di internet itu sangat mudah membuka pembicaraan dengan teman saya mengenai hal-hal yang cukup umum dan ringan.

Yah walaupun saya gagal untuk terhubung dengan sebagian besar teman saya melalui media sosial, saya selalu senang ketika akhirnya bisa bertemu dengan mereka. Pada awalnya saya pernah bingung harus membahas apa karena sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak berguna, karena baru ketemu aja udah kaya lomba burung berkicau dan kami bisa menghabiskan waktu 1 hari lompat dari cafe, rumah makan, toko buku, dan segala macam tempat nongkrong untuk menceritakan segala hal.

Jadi kapan kita ngobrol lagi…..?

3 Replies to “Saya, Media Sosial, dan Teman Saya. Masalahnya…”

  1. Aku ono kok Dit kehidupan online e ~~~ meskipun dudu kiblat fashion seperti yang hekkkkkkkkhhh *ditekak*

    Di rumah cukup wi-fi saja, nggak usah tambah waifu hologram :))))

    1. Apalah artinya jadi kiblat online kalo rotten inside.

      1. Mungkin supaya biar yang rotten nggak cuma tomatoes.

Leave a Reply