Ketika Sosial Media Sudah Tidak Sosial Lagi

Seperti yang telah kalian tahu saya akhirnya menseriusi blogging lagi dengan membuat blog ini, yaadit.com. Dan dengan berkata itu, saya telah mengasumsikan bahwa beberapa atau banyak dari anda yang membaca blog saya padahal kayanya sih gak ada huhuhuhu.

Jadi ngomong-ngomong aja, saya membuat blog ini karena sebagai sarana saya mengutarakan pendapat, juga bercerita, karena akhir-akhir ini saya merasa banyak ide, pikiran, bahkan masalah beserta solusi yang ingin saya bagi tapi tidak tahu kepada siapa atau kemana. Apalagi anda pasti tahu pada usia 20 awal manusia sedang bingung-bingungnya menentukan arah setelah lulus kuliah.

Ya. Jangan diterusin curhatnya.
Selain tujuan di atas tadi saya juga sebetulnya ingin membuat blog ini sebagai bagian dari identitas diri saya. Awalnya saya berencana untuk mengisi blog ini dengan hal-hal kekinian, yang hits, dan pastinya hipster, sampai kemudian saya berpikir, kok maksa ya…. dan pastinya

where is the fun in that?

Mungkin ini juga akan berhubungan dengan obrolan saya dengan teman saya yang intinya, “hari gini kita di internet itu sangat demanding!” Banyak sekali tuntutannya di internet, terutama media sosial. Kalau saya mengingat jaman saya masih SMP, dimana sosial media paling hits pada saat itu adalah friendster, dan aplikasi chat paling banyak dipakai adalah mIRC, mig33, dan Mxit (aplikasi yang dipakai anak gaul di kota lain mungkin beda), saya bisa punya banyak sekali teman di internet. Jika ada yang mengira bahwa mereka-mereka ini hanyalah teman virtual tentu anggapan itu salah, karena saya yang dulu tidak tahu malu sangat easy going untuk kopi darat (blind date).

chat room pada aplikasi mig33
chat room pada aplikasi mig33

Dulu media sosial itu saya rasa betul-betul sarana untuk bersosialisasi di internet. Because, d’uh it is called social media for a reason. Senangnya bisa bertukar testimoni di friendster dengan text glitter glitter yang pakai CSS (dan juga berat-beratin page), tukar informasi dimana bisa buat theme untuk halaman friendster, blogger (blogspot.com) yang ketika itu sangat simpel dan penggunanya sangat bebas untuk menyuarakan pendapat mereka, banyaknya chat room di aplikasi chat yang cukup general (misalnya chat room kota/wilayah tertentu), twitter yang waktu masih awal sekali saya pakai (sekitar tahun 2009) penuh dengan orang-orang menarik dengan bahasa yang jenaka.

Kemudian semua berubah ketika negara api menyerang.

Beranjak dewasa saya menyadari bahwa internet dan penggunanya pun menjadi demanding. Para user yang dulunya sangat terbuka, sekarang menjadi jual mahal, dan banyak tuntutan. Tiba-tiba tidak semua orang yang saya temui di internet bisa saya ajak berteman. Bahkan untuk memposting sesuatu di sosial media saya pun jadi terlalu banyak berpikir.

Bagus gak ya? Nanti ada yang baca gak ya? Nanti yang like banyak gak ya? Ini mendingan di post di twitter, instagram, atau facebook ya? Hmm… udah setengah jalan  nulis di path kok kepanjangan, apa di blog aja ya?

Saya pun jadi berpikir kenapa sekarang sulit sekali untuk mendapat teman di internet. Padahal niatan berteman saja, bisa diajak untuk bercerita, syukur kalau minat dan hobinya sama. Sekarang lebih banyak yang suuzon kalau didekati di internet pasti untuk dipacari. Kurang mengerti juga saya, apakah saya salah gaul atau mereka yang “haus”.

Memposting tulisan di twitter pun harus berhati-hati jika dikira kita nomention nyindir orang. Posting foto di instagram harus dengan gambar yang menarik, berkonsep, bagai majalah untuk mendapat banyak like. Bercerita di Path jika terlalu panjang katanya menyusahkan yang baca dan diminta untuk pindah ke blog. Memiliki blog pun agar banyak yang baca harus memiliki konten yang menarik, kekinian, dengan desain web yang minimalis. Ah apalah ini internet masa kini!

Terakhir saya melihat harapan adalah dari aplikasi bernama Secret.

Penjelasan singkat aplikasi secret

Secret ini adalah sosial media dimana kita sebagai user tidak perlu login, dan dapat langsung menulis pesan pendek (seperti twitter) sebagai pengguna anonim. Sebagaimana kita tahu dari tagline mereka adalah “Say something kind” dimana mereka percaya, dan mungkin ada studi yang mebuktikan bahwa seseorang akan lebih mudah bersimpati jika tidak mengetahui siapa lawannya, apa latar belakangnya, ras, etnis, dan banyak faktor yang memisahkan umat manusia. Kerennya lagi saat itu mereka memiliki fitur near by, dimana kita akan dikelompokkan dengan user yang berdekatan dengan kita.

HOW BRILLIANT IS THAT?

Selama dua minggu saya menggunakan aplikasi ini saya bisa tertawa terbahak-bahak membaca curhat dan gosip yang dibagi dari sesama pengguna, merasakan adanya iba ketika ada user yang ternyata memiliki masalah yang berat dan banyak user lain yang memberikan support, atau bahkan katanya ada yang jadi pacaran karena aplikasi ini. hihihi definitely more efficient than tindr.

Saya dan banyak user lain pun tidak keberatan menjadi anonim. Kami sebagai user hanya diberikan avatar dengan ikon yang lucu seperti jamur, bunga, lolipop yang warna warni. Begitu pula kami memanggil satu sama lain di dalam aplikasi, mungkin saya akan memanggil mereka dengan “bunga kuning”, “jamur ungu” dan lain lain, tergantung dengan avatar yang diberikan secret kepada kami.

ternyata orang yang bisa baik kepada kita adalah orang yang benar-benar asing. 100% stranger.

Soal apakah hanya sebatas itu atau akan ke jenjang lebih tentu semua terserah kepada user. Saya pun memiliki beberapa teman baru yang akhirnya bertukar id Line dan ketemuan di suatu tempat. Ada rasa senang karena kita deg-degan ketemu seseorang yang asing tapi sangat nyambung & bersimpati pada kita di dunia nyata,  juga perasaan heran bahwa ternyata orang yang bisa baik kepada kita adalah orang yang benar-benar asing. 100% stranger.

Sayangnya kebahagiaan saya harus berakhir karena ketika saya kembali dari studi saya di Cina, aplikasi ini telah ditutup. Menurut yang saya baca dari press release pembuat aplikasi, bahwa penggunaan aplikasi ini telah melenceng. Bukannya untuk bersimpati kepada sesama user, namun banyak yang menyebarkan gosip miring, dan juga menggunakan fitur near by untuk one night stand. Yah, saya rasa karena aplikasi ini meledak sekali di Jakarta tentu hal seperti itu akan dihadapi dari mental pengguna di Indonesia.

Walau demikian saya sangat menyukai ide dari secret ini. Secret adalah sebuah media dimana saya bisa merasakan bahwa kita menggunakan sosial media benar-benar untuk bersosialisasi, bercerita, mencari teman baru. Tidak untuk pamer dengan hidup kita atau bahkan merecoki kehidupan orang lain. Saya berharap kedepan ada yang memiliki ide demikian namun dengan eksekusi yang lebih bagus lagi.

Leave a Reply