Stop Trying to be Other Person

I’m learning to love myself and it is the one of the hardest thing I’ve done.

Faktanya memang begitu, di sekitar kita banyak yang berbicara untuk mencintai sesama manusia, untuk memberikan cinta sebanyak orang lain yang telah berikan kepada kita, tapi kita sering melupakan untuk bertanya  pada diri kita sendiri.

Sudahkah kita mencintai diri kita sendiri? kalau sudah, seberapa besar rasa cinta itu?

Buat saya, kesadaran saya akan pertanyaan tersebut adalah kesadaran akan salah satu sumber depresi yang saya alami akhir-akhir ini. Saya selalu merasa hidup di bayang-bayang orang yang telah mendahului saya, baik teman yang lebih pintar, teman yang lebih dulu berprestasi, karir dan pencapaian orang tua, bahkan ketika saya seharusnya menikmati hobi saya sendiri saya selalu merasa bahwa saya tidak akan melukis sebagus kakek saya.

Ok, mungkin saya akan bercerita tentang hal yang terakhir saya sebutkan karena hal tersebut lebih tidak rumit untuk diceritakan. Jadi, sejak kecil saya memang sudah hobi menggambar. Guru dan orang tua saya pun mengakui bahwa level gambar saya di usia dini sudah bukan menggambar gunung kembar dengan matahari yang ngintip di tengahnya. Ketika anak-anak masih sibuk dengan gunung kembarnya, saya sudah sibuk menggambar air terjun, menggambar aneka satwa liar, dan menggambar hal-hal menarik lainnya yang saya temui di seputar hidup saya.

Melihat potensi saya ini, orang tua saya pun memperkenalkan saya pada kakek saya yang adalah seorang pelukis terkenal. Pada hari saya berkunjung, saya diajak berkeliling rumah beliau yang penuh lukisan, studio tempatnya bekerja, dan bercerita tentang tehnik lukis, juga hal-hal yang menginspirasi beliau. Di akhir kunjungan saya, kakek hanya berpesan 1 hal, “adit tetap melukis ya”

Dari saat itu, saya menjadi sangat termotivasi bahwa saya akan terus melukis. Bagus kan? hem…. dalam dosis yang tepat tentu bagus, dalam dosis yang berlebihan ini telah membawa saya dalam tekanan. Saya telah berkali kali mencoba meniru lukisan kakek saya, namun berapapun sketsa dan lukisan yang saya buat hal itu tidak membuat saya senang. Rasanya hampa, tidak ada kepuasan, dan saya selalu merasa ada yang kurang.

Dan….

Kemudian saya menemukan titik balik saya… yaitu kesadaran yang saya ceritakan di awal blog post ini.

Saya kemudian menanyakan pada diri saya sendiri. Kenapa saya terlalu bersusah payah menjadi beliau? Beliau adalah maestro, telah berkarir selama 70 tahun lebih, mendapat beasiswa ke amerika, dan karyanya telah diakui dunia. Sedangkan saya hanyalah remah2 biskuit marie jika dibandingkan beliau. Iya, remah-remah biskuit yang bisa melukis tapinya yha…..

Saya pun menilik sket, dan lukisan yang akhir-akhir ini saya buat…

pink peony ink + digital

gambar bunga yang saya buat pertama kali setelah sekian lama tidak menyentuh photoshop. Pencil scan + color layer

alvin digital drawing

Gambar yang pertama saya buat setelah membeli tablet wacom. Saat itu saya begitu antusias, asal coba, dan terjadilah gambar ini dalam 1  hari belajar.

alvin digital drawing 2

Gambar yang saya buat setelah membeli Kyle T Webster watercolor brush, set kuas cat air digital untuk photoshop yang banyak digunakan oleh ilustrator di Pixar, Disney, dan HBO.

2 done

3 done

menyempurnakan penggunaan kuas tersebut dengan menggambar hasil fotografi dari Haqeeu Cahya, gambar pertama adalah Arnold Tedja salah satu fashion blogger favorit saya.

Dan masih banyak lagi karya saya yang masih tersimpan rapi dalam komputer saya. Sayangnya gambar-gambar tersebut tidak pernah saya perlihatkan karena… saat itu saya menyerah saja karena saya merasa gambar itu tidak sebagus harapan saya. Sekarang saya rasanya harus meneruskan beberapa project yang terlewat… baiklah…

Ya, saya mengakui bahwa karya yang saya buat ini tidak sebagus karya kakek saya. Because… who am I kidding, beda level broh. Tapi saya menyadari bahwa saya mungkin telah menemukan ciri khas gambar saya sendiri, sesuatu yang sangat adit, dan juga indah untuk dinikmati. Saya seharusnya tidak bersusah payah menjadi orang lain, meniru karya orang lain, karena saya seharusnya memaksimalkan apa yang saya miliki dan tidak dimiliki orang lain. Hal itu pula yang harusnya kita lakukan, bukan begitu?

 

 

oot: btw though It looks beautiful, I realize that it’s fking hard to find matching thumbnail for each blog post. I might changing my blog theme soon 😐

2 Comment

  1. The best part is the oot ~

    1. Piye karepmu bos -,-

Leave a Reply